es jeruk

By 7/22/2014 10:10:00 AM



“mbak, es jeruknya satu..”

Entah kapan terakhir kali aku memesan minuman ini-sampai akhirnya kupesan lagi-. Rasanya sudah sangat lama. Aku lupa. Minuman yang dulu selalu kupesan, lalu entah sejak kapan kamu juga mulai menyukainya. Sruuuuuuu....tttt... kusedot perlahan, rasanya masih sama: asam manis cinta. Tapi menjadi tidak begitu spesial karena aku meminumnya sendiri, tidak lagi kamu yang memesannya untukku, tidak lagi kamu yang duduk disamping sini menemaniku.

Entah apa yang menyebabkan aku berhenti minum, asam lambungku yang kian memberontak muak atau tak ada lagi kamu. Aku tidak tau, tapi yang jelas semuanya saling berhubungan. Lalu, terasa hantaman kuat dari sini, lambungku. Ahhh... aku menyeringai malu. Bahkan asam lambungku pun begitu bersemangat mengingatmu.






Eh, ngomong-ngomong kapan terakir kali kamu mengingatku?.
 
Hahhaha aku geli dengan pertanyaanku sendiri, pasti sudah lama sekali kan? Pasti amu bahkan sudak lupa kalau pernah mengenalku. Iya aku yakin itu. Teman-temanku dikampus heboh menggosipkanmu, tentang poto mesra kau dan pacarmu. Aku hanya tersenyum. Tenang saja, senyumku ikhlas mendoakanmu.

Kamu ingat hujan pertama kita? Aku ingat. Lengkap dengan tanggal bulan dan tahun. Terbayang jelas bagaimana kita begitu basah dan dingin oleh cinta dan kerinduan. Rintik gerimis itu bukan apa-apa. Tapi aku senang, setidaknya mereka menahanmu lebih lama disisiku sebelum kau mengantarku kuliah dan meninggalkan aku pulang.

Kamu ingat pertemuan pertama kita? Aku ingat. Malam itu entah kenapa kita kebetulan memakai setelan jeans hitam dan kemeja biru muda yang senada. Aku tertunduk malu. Kita habiskan makan malam dengan aku yang masih tertunduk bisu dan kamu yang mulai kikuk kehabisan akal mencairkan suasana. Lucu ya? Waktu itu aku masih sangat lugu. Kalau saja ada cermin disitu pasti aku tambah malu melihat air mukaku berubah merah jambu.

Lalu apa kamu ingat hari minggu pertama kita? Aku ingat. Tergambar jelas sore itu bagaimana ekspresimu saat mendadak pasang tampang serius dan bilang cinta. Aku hanya tertawa. Bukan aku tak percaya dengan ucapanmu, aku justru tak percaya dengan pendengaranku. Aku takut menjadi terlalu naif. Yahh walaupun begitu pada akhirnya kita tetap berpacaran-setelah tiga kali kamu nyatakan perasaan-. Aku lega

Tapi dibalik semua kenangan manis itu aku juga masih sangat mengingat setiap pertengkaran kita lengkap dengan berapa banyak derai airmata. Kita perpisah.

Lalu, apa kamu pernah membayangkan aku? Mungkin ada beberapa kejadian yg sangat kau sesalkan dan tidak seharusnya mengakibatkan perpisahan? Aku iya.

Atau kamu pernah membayangkan kalau suatu hari nanti kita bertemu lalu harus berkata apa? Berbuat apa? Aku pernah.
Bahkan samapi hari ini aku mengingatmu dengan jelas. Sudah lama sekali memang, tapi setiap kali aku membuka lemari dan kutemukan baju-baju atau benda apapun yang pernah kugunakan ketika bersamamu tanpa sadar aku sedang kembali mencarimu disitu. Kamu yang susah payah berusaha kutenggelamkan dalam ingatan tapi malah kutarik kembali dan kusimpan dalam bingkai kenangan.

Setiap kali aku masuk kamar untuk sekedar berbaring atau ketika hendak tidur, lagi-lagi tanpa disadari pikiranku melayang kesana, kearahmu. Aku selalu memikirkan kamu sedang apa, bagaimana kamu menjaga pola maknmu? Apa kamu cukup istirahat? Karena dulu aku yang selalu cerewet memarahimu “jangan main hape klao lagi nyetir”. Ah, aku lupa. Kamu sudah punya kekasih baru yang pasti lebih baik daripada aku. Aku sangat percaya dengan seleramu, pillihanmu. Tentu dia lebih dapat menjagamu, tentu dia merawatmu lebih dari aku. Tentu lebih kau cintai.

Harus ku akui kejahatan ini, aku malu. Kadang-kadang aku tidak mau tau tentang statusmu sekarang. Kadang-kadang aku mendoakan agar hbunganmu berantakan. Kadang-kadang aku berharap kamu tidak menemukan yang sebaik aku. Dan kadang-kadang aku menyumpahi agarkamu tidak sebahagia aku sekarang. Aku sangat jahat.

Baiklah, aku tidak mau tau tentang hidupmu yang baru. Aku sudah cukup bahagia menyimpanmu disini. Dihati yang terdalam ini. Kemana-mana membawamu serta, melihat foto kita kapanpun aku mau. Membayanngkanmu sepuasku, sebebasku. Aku sudah ikhlas untukmu.
Tapi ingatlah ini, ingat baik-baik bagaimana aku pernah mempertahankan agar kamu tidak pergi. Lalu pertahankan dia seperti itu. Salam rindu.


                                                                                        
                                                                   Gunung Terang, dalam hangat dekapan matahari pagi.
                                                                                      Dua puluh dua Juli dua ribu empat belas.

You Might Also Like

0 komentar