es jeruk
“mbak, es jeruknya satu..”
Entah kapan terakhir kali aku memesan minuman
ini-sampai akhirnya kupesan lagi-. Rasanya sudah sangat lama. Aku lupa. Minuman
yang dulu selalu kupesan, lalu entah sejak kapan kamu juga mulai menyukainya.
Sruuuuuuu....tttt... kusedot perlahan, rasanya masih sama: asam manis cinta.
Tapi menjadi tidak begitu spesial karena aku meminumnya sendiri, tidak lagi
kamu yang memesannya untukku, tidak lagi kamu yang duduk disamping sini
menemaniku.
Entah apa yang menyebabkan aku berhenti minum,
asam lambungku yang kian memberontak muak atau tak ada lagi kamu. Aku tidak
tau, tapi yang jelas semuanya saling berhubungan. Lalu, terasa hantaman kuat dari sini,
lambungku. Ahhh... aku menyeringai malu. Bahkan asam lambungku pun begitu
bersemangat mengingatmu.
Eh, ngomong-ngomong
kapan terakir kali kamu mengingatku?.
Hahhaha aku geli dengan pertanyaanku sendiri,
pasti sudah lama sekali kan? Pasti amu bahkan sudak lupa kalau pernah
mengenalku. Iya aku yakin itu. Teman-temanku dikampus heboh menggosipkanmu,
tentang poto mesra kau dan pacarmu. Aku hanya tersenyum. Tenang saja, senyumku
ikhlas mendoakanmu.
Kamu ingat hujan pertama kita? Aku ingat.
Lengkap dengan tanggal bulan dan tahun. Terbayang jelas bagaimana kita begitu
basah dan dingin oleh cinta dan kerinduan. Rintik gerimis itu bukan apa-apa.
Tapi aku senang, setidaknya mereka menahanmu lebih lama disisiku sebelum kau
mengantarku kuliah dan meninggalkan aku pulang.
Kamu ingat pertemuan pertama kita? Aku ingat.
Malam itu entah kenapa kita kebetulan memakai setelan jeans hitam dan kemeja
biru muda yang senada. Aku tertunduk malu. Kita habiskan makan malam dengan aku
yang masih tertunduk bisu dan kamu yang mulai kikuk kehabisan akal mencairkan
suasana. Lucu ya? Waktu itu aku masih sangat lugu. Kalau saja ada cermin disitu
pasti aku tambah malu melihat air mukaku berubah merah jambu.
Lalu apa kamu ingat hari minggu pertama kita?
Aku ingat. Tergambar jelas sore itu bagaimana ekspresimu saat mendadak pasang
tampang serius dan bilang cinta. Aku hanya tertawa. Bukan aku tak percaya
dengan ucapanmu, aku justru tak percaya dengan pendengaranku. Aku takut menjadi
terlalu naif. Yahh walaupun begitu pada akhirnya kita tetap berpacaran-setelah
tiga kali kamu nyatakan perasaan-. Aku lega
Tapi dibalik semua kenangan manis itu aku juga masih sangat mengingat setiap pertengkaran kita lengkap dengan berapa banyak derai airmata. Kita perpisah.
Lalu, apa kamu pernah membayangkan aku?
Mungkin ada beberapa kejadian yg sangat kau sesalkan dan tidak seharusnya
mengakibatkan perpisahan? Aku iya.
Atau kamu pernah membayangkan kalau suatu hari
nanti kita bertemu lalu harus berkata apa? Berbuat apa? Aku pernah.
Bahkan samapi hari ini aku mengingatmu dengan
jelas. Sudah lama sekali memang, tapi setiap kali aku membuka lemari dan kutemukan
baju-baju atau benda apapun yang pernah kugunakan ketika bersamamu tanpa sadar
aku sedang kembali mencarimu disitu. Kamu yang susah payah berusaha
kutenggelamkan dalam ingatan tapi malah kutarik kembali dan kusimpan dalam
bingkai kenangan.
Setiap kali aku masuk kamar untuk sekedar
berbaring atau ketika hendak tidur, lagi-lagi tanpa disadari pikiranku melayang
kesana, kearahmu. Aku selalu memikirkan kamu sedang apa, bagaimana kamu menjaga
pola maknmu? Apa kamu cukup istirahat? Karena dulu aku yang selalu cerewet
memarahimu “jangan main hape klao lagi nyetir”. Ah, aku lupa. Kamu sudah punya
kekasih baru yang pasti lebih baik daripada aku. Aku sangat percaya dengan
seleramu, pillihanmu. Tentu dia lebih dapat menjagamu, tentu dia merawatmu
lebih dari aku. Tentu lebih kau cintai.
Harus ku akui kejahatan ini, aku malu.
Kadang-kadang aku tidak mau tau tentang statusmu sekarang. Kadang-kadang aku
mendoakan agar hbunganmu berantakan. Kadang-kadang aku berharap kamu tidak
menemukan yang sebaik aku. Dan kadang-kadang aku menyumpahi agarkamu tidak
sebahagia aku sekarang. Aku sangat jahat.
Baiklah, aku tidak mau tau tentang hidupmu
yang baru. Aku sudah cukup bahagia menyimpanmu disini. Dihati yang terdalam
ini. Kemana-mana membawamu serta, melihat foto kita kapanpun aku mau.
Membayanngkanmu sepuasku, sebebasku. Aku sudah ikhlas untukmu.
Tapi ingatlah ini, ingat baik-baik bagaimana
aku pernah mempertahankan agar kamu tidak pergi. Lalu pertahankan dia seperti
itu. Salam rindu.
Gunung
Terang, dalam hangat dekapan matahari pagi.
Dua puluh dua Juli dua ribu empat belas.
Dua puluh dua Juli dua ribu empat belas.






0 komentar